Jepara-Tenda warna putih berjajar mengelilingi lapangan desa Kendeng Sidi Alit kecamatan Welahan Kabupaten Jepara.
Tenda dengan atap berbentuk kukusan warna putih ini, merupakan stand produk yang dihasilkan penduduk desa setempat. Ada pakaian, tas, kerajinan, dan tentu saja tidak ketinggalan makanan.
Sementara di sisi lain lima panggung tertata membuat setengah lingkaran. Panggung-panggung yang lengkap dengan "Kelir" itu merupakan panggung pagelaran wayang lima dalang dalam satu lakon.
Ya malam 27/9 adalah malam puncak gelar budaya. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka syukuran sedekah bumi ini, dimulai dengan iringan seribu ingkung dan memedi sawah. Dengan pembukaan yang dihadiri gubernur jawa tengah Ganjar Pranowo pada tanggal 20/9. Selama sepekan berbagai acara digelar.
Dan malam 27/9 ditutup dengan pagelaran wayang lima dalang.
Kelima dalang tersebut merupakan warga asli dari Desa Kendengsidialit. Yakni Ki Waroto, Ki Waroso, Ki Warko, Ki Sutiyono, dan Ki Tisnoko. Mereka membabar "SEMAR MBANGUN KAHYANGAN".
Sebuah kisah yang tak asing lagi bagi para pecinta pakeliran.
Kocab kacarita, semar yang gundah gulana hendak membangun kahyangan. Dia mengutus Petruk untuk pinjam tiga pusaka pada pandawa untuk membangun kahyangan tersebut. Alih-alih dipinjami, petruk justru diusir.
Maka murkalah Semar pada pandawa. Pandawa yang di advice oleh kresna, juga berkonsultasi pada Batara Guru di Suralaya. Akhirnya Semar sang Batara Ismayapun mengamuk dan menghancurkan Suralaya alias "Junggring Saloka".
Yang manarik dari pagelaran ini adalah Penonton harus "pegel gulune" karena harus Nolah-noleh ke kanan ke kiri. Lha dalange limo beda panggung. "Asem kok panitiane" seloroh mbah jun penonton malam itu.


No comments:
Post a Comment