Tidak disangka, seorang seniman dengan penampilan "Sangar" asal solo, Sosiawan Budi Sulistyo atau yang lebih dikenal dengan sebutan sosiawan leak, ternyata peduli dengan santri. Ini dibuktikan dengan sebuah puisi yang diunggahnya pada akun facebooknya.
Tentu saja para sahabatnya kontan menshare puisi yang luar biasa ini.
Inilah puisi yang di uggah di akun facebooknya.
SANTRI PEJUANG
dulu,
ada yang tiba-tiba menjelma menjadi jawara
menekuk lutut musuh-musuhnya
menundukkan semua lawan, bersandar keyakinan
pada kitab syaikhona bangkalan
(meski belum fasih menafsirkan
apakah yang dirapal adalah mantra perkelahian
atau doa akikahan).
dulu,
ada yang sontak kebal senjata
disuwuk kiainya
hingga di medan laga
mesiu meleset, tubuh haram terbeset
peluru bertebaran di sekitar kaki
mortir berhamburan di kanan-kiri
pantang lari, mendekap bambu runcing
yang disepuh sang guru subeki
allaahu akbar!
allaahu akbar!!
allaahu akbar!!!
“kelak, jika kalian kesasar ke neraka
akan kutarik ke surga!”
fatwa kiai as’ad
sedia berkumpul dunia-akherat
dengan barisan pelopornya
; para bandit, berandalan, bajingan
sampah masyarakat yang terbuang.
mereka yang menggenggam celurit, keris serta rotan
direngkuh disadarkan
berkaki hitam, bercelana hitam, berbaju hitam, bertutup kepala hitam
jamaah bromocorah tapal kuda, hijrah menjelma santri pejuang!
dari banyuwangi, situbondo, bondowoso serta lumajang
probolinggo, jember sekalian pasuruan
mencegat belanda, jepang, dan nica
; perampok kemerdekaan, penjarah kemanusiaan.
hubbul wathan minal iman!
ya lal wathon
ya lal wathon
ya lal wathon
hubbul wathon minal iman
...
masa berkelebat waktu berjingkat
ada santri tercatat paling nekat
nakal kelewat bengal
sampai lurah pondok hilang akal
hingga rama kiai berdoa berkali-kali
nimbali ke ndalemnya secara pribadi
menjamunya dengan istimewa
sebelum jagongan layaknya anak dan orang tua
masa bergantian waktu berjalan
ada santri yang suka merencak buah-buahan
berencana memanen tebu diam-diam
mengintai ayam piaraan
berharap menjadi selingan
bagi terong sambal, menu keseharian
yang disantap di sela gatal sekujur badan
kepedasan sambil sibuk menggaruk-garuk area selangkangan
masa menderu waktu berlalu
ada santri menyandera sandal tamu
berharap ngalap berkah dan restu
ghasab alat mandi, sarung, dan peci
entah kapan kembali
lupa,
meski akhirnya
sukses menjadi politisi atau selebriti
juga bupati, gubernur, bahkan menteri.
kini,
di zaman globalisasi
masih adakah santri yang ngaji keyakinan
seyakin khodam syaikhona bangkalan?
sekarang,
di era milenial sungsang
masih adakah yang minta suwuk
kepada kiai sepuh dan tawaduk
agar kebal dari godaan jabatan dan kursi
sekebal santri sang guru subeki?
di orde politik hoaks
masih adakah santri rela berkhidmat
kepada ulama taat
sekhidmat jamaah bromocorah tapal kuda yang hijrah
demi berbaiat kepada kiai as’ad?
ada yang tiba-tiba menjelma menjadi jawara
menekuk lutut musuh-musuhnya
menundukkan semua lawan, bersandar keyakinan
pada kitab syaikhona bangkalan
(meski belum fasih menafsirkan
apakah yang dirapal adalah mantra perkelahian
atau doa akikahan).
dulu,
ada yang sontak kebal senjata
disuwuk kiainya
hingga di medan laga
mesiu meleset, tubuh haram terbeset
peluru bertebaran di sekitar kaki
mortir berhamburan di kanan-kiri
pantang lari, mendekap bambu runcing
yang disepuh sang guru subeki
allaahu akbar!
allaahu akbar!!
allaahu akbar!!!
“kelak, jika kalian kesasar ke neraka
akan kutarik ke surga!”
fatwa kiai as’ad
sedia berkumpul dunia-akherat
dengan barisan pelopornya
; para bandit, berandalan, bajingan
sampah masyarakat yang terbuang.
mereka yang menggenggam celurit, keris serta rotan
direngkuh disadarkan
berkaki hitam, bercelana hitam, berbaju hitam, bertutup kepala hitam
jamaah bromocorah tapal kuda, hijrah menjelma santri pejuang!
dari banyuwangi, situbondo, bondowoso serta lumajang
probolinggo, jember sekalian pasuruan
mencegat belanda, jepang, dan nica
; perampok kemerdekaan, penjarah kemanusiaan.
hubbul wathan minal iman!
ya lal wathon
ya lal wathon
ya lal wathon
hubbul wathon minal iman
...
masa berkelebat waktu berjingkat
ada santri tercatat paling nekat
nakal kelewat bengal
sampai lurah pondok hilang akal
hingga rama kiai berdoa berkali-kali
nimbali ke ndalemnya secara pribadi
menjamunya dengan istimewa
sebelum jagongan layaknya anak dan orang tua
masa bergantian waktu berjalan
ada santri yang suka merencak buah-buahan
berencana memanen tebu diam-diam
mengintai ayam piaraan
berharap menjadi selingan
bagi terong sambal, menu keseharian
yang disantap di sela gatal sekujur badan
kepedasan sambil sibuk menggaruk-garuk area selangkangan
masa menderu waktu berlalu
ada santri menyandera sandal tamu
berharap ngalap berkah dan restu
ghasab alat mandi, sarung, dan peci
entah kapan kembali
lupa,
meski akhirnya
sukses menjadi politisi atau selebriti
juga bupati, gubernur, bahkan menteri.
kini,
di zaman globalisasi
masih adakah santri yang ngaji keyakinan
seyakin khodam syaikhona bangkalan?
sekarang,
di era milenial sungsang
masih adakah yang minta suwuk
kepada kiai sepuh dan tawaduk
agar kebal dari godaan jabatan dan kursi
sekebal santri sang guru subeki?
di orde politik hoaks
masih adakah santri rela berkhidmat
kepada ulama taat
sekhidmat jamaah bromocorah tapal kuda yang hijrah
demi berbaiat kepada kiai as’ad?
solo, 6 oktober 2018
Selain Puisi di atas, Sosiawan Leak juga menulis puisi tentang peran santri dalam sebuah antologi puisi :
SANTRI NUSANTARA
siapa yang mengawal kanjeng sunan giri
menghadang gempuran mataram
yang cemburu pada cahaya tuhan
siapa yang mengawal bonjol sang imam
bersama para padri
menentang kaum adat yang diprovokasi kompeni
siapa yang mengawal diponegoro
menegakkan perang sabil
melawan belanda di tanah jawa
siapa yang mengawal hadratussyekh dan para kiai
mengobarkan resolusi jihad
merumat kemerdekaan sebagai hijrah kebebasan
lepas dari belenggu penjajahan
siapa yang mengawal bung tomo
menggemakan allaahu akbar!
menangkis ledakan inggris dan nica berperisai keyakinan serta nyawa
pada 10 nopember di surabaya
siapa?
nyatanya kamu
yang berpeci butut itu
sarung lusuh, wajah kumuh, namun tak pernah rapuh
menjaga kampung dan desa
juga tlatah tak terpeta
dalam perang gerilya tanpa bintang jasa
kamu
yang berbakiak kayu, sajadah & kitab berdebu
tak mempan peradaban palsu
merawat negeri dengan patrol dan puja-puji sahaja
luput dari sejarah agung para nama
kamu
yang gatal-gatal kulitmu
eksim, kadas, panu
serta kudisan di sekujurmu
adalah garda utama bhineka tunggal ika
di tengah bangsa yang sakit jiwa
karena rakus harta, gila kuasa, dan sakaw agama!
ya,
kamulah penjaga itu
putra-putri sejati ibu pertiwi
santri nusantara!
solo, 3 oktober 2017
(Antologi "Sajak Hoax", penerbit Elmatera, 2018, hal. 138-139)
Selain Puisi di atas, Sosiawan Leak juga menulis puisi tentang peran santri dalam sebuah antologi puisi :
SANTRI NUSANTARA
siapa yang mengawal kanjeng sunan giri
menghadang gempuran mataram
yang cemburu pada cahaya tuhan
siapa yang mengawal bonjol sang imam
bersama para padri
menentang kaum adat yang diprovokasi kompeni
siapa yang mengawal diponegoro
menegakkan perang sabil
melawan belanda di tanah jawa
siapa yang mengawal hadratussyekh dan para kiai
mengobarkan resolusi jihad
merumat kemerdekaan sebagai hijrah kebebasan
lepas dari belenggu penjajahan
siapa yang mengawal bung tomo
menggemakan allaahu akbar!
menangkis ledakan inggris dan nica berperisai keyakinan serta nyawa
pada 10 nopember di surabaya
siapa?
nyatanya kamu
yang berpeci butut itu
sarung lusuh, wajah kumuh, namun tak pernah rapuh
menjaga kampung dan desa
juga tlatah tak terpeta
dalam perang gerilya tanpa bintang jasa
kamu
yang berbakiak kayu, sajadah & kitab berdebu
tak mempan peradaban palsu
merawat negeri dengan patrol dan puja-puji sahaja
luput dari sejarah agung para nama
kamu
yang gatal-gatal kulitmu
eksim, kadas, panu
serta kudisan di sekujurmu
adalah garda utama bhineka tunggal ika
di tengah bangsa yang sakit jiwa
karena rakus harta, gila kuasa, dan sakaw agama!
ya,
kamulah penjaga itu
putra-putri sejati ibu pertiwi
santri nusantara!
solo, 3 oktober 2017
(Antologi "Sajak Hoax", penerbit Elmatera, 2018, hal. 138-139)
Rupanya seniman eksentrik ini memang sudah sejak lama berkolaborasi dengan para kyai dan santri.
Bagi mas leak, dia menulis apa yang mengusik hatinya, mengusik masyarakat.
# Selamat Hari Santri 2018 #



