Begitulah celoteh sang Moderator pada njagong kebudayaan Malam minggu tanggal 8 Oktober 2016. Celoteh itu muncul setelah nara sumber malam itu, pak Hadi Priyanto menyampaikan bahwa kearifan lokal bisa digali dari mikro historis.
Di Mayong selain RA Kartini, ada tokoh perempuan lainnya yaitu ibu mas Semangkin. Beliau adalah salah satu senopati perang Mataram yang ditugaskan oleh Raja Mataram saat itu yaitu Danang Suto Wijoyo untuk menumpas pemberontakan Dari Kabupaten Pati.
Selain itu Tokoh Nasional yaitu Kartini, perlu ditelusuri lagi pengaruhnya pada lahirnya sumpah pemuda, karena meskipun gerakan pemuda Jong Java di deklarasikan tahun 1913, tapi dalam surat Kartini dia sudah menceritakan gerakan pemuda itu. Bahkan ada info bea siswa yang diterima Kartini untuk belajar ke Belanda diserahkan kepada salah satu tokoh Budi Utomo.
Bahkan dari informasi yang ada para pemuda sering menyebut Kartini sebagai ayunda. Tempat "Curhat Para Pemuda"
"Jepara memang kota wanita, ada Shima, Kalinyamat, Ada Kartini, Ada Semangkin" begitu celoteh sang moderator.
Tampaknya apa yang disampaikan pak Hadi, selaras dengan ide kegiatan "Negeri yang terlahir kembali" dimana konsep yang diusung tersebut mengaitkan antara kelahiran Kartini dan kelahiran kebangkitan nasional dan lahirnya sumpah pemuda.
Ramatyan Sarjono selaku Narasumber ke dua menyampaikan kearifan lokal memang harus dicari, kalau tidak ketemu ya harus diciptakan. Inilah tantangan para kreator untuk menciptakan karya-karya baru berdasar kearifan lokal yang ada. Tetapi jangan lupa bahwa pengembangan kearifan lokal ini juga harus menghindari ketidak Arfian lokal.
Tumpes Kelor misalnya, adalah ketidak Arifah lokal. Setiap pergantian kekuasaan selalu menumpas keluarga dan turunan dari penguasa sebelumnya.
Apa yang disampaikan Pak Jon ini bisa berkait erat dengan cerita pak Hadi bahwa beliau pernah bertemu dengan anak turun Kartini yang hidup dalam kemiskinan, karena dimiskinkan oleh orde baru hanya karena Raden Susalit (anak Kartini) dekat dengan Soekarno.
Sementara KRT Siwoyo Hendro Pramono sebagai nara sumber pertama selaku salah satu keturunan ibu Mas Semangkin dan juga Keturunan dari salah satu Abdi Dalem Kartini menyampaikan informasi akan dilangsungkan Khoul ibu Mas Semangkin besok tgl 12 Oktober 2016 di desa Mayonglor.
Di Mayong selain RA Kartini, ada tokoh perempuan lainnya yaitu ibu mas Semangkin. Beliau adalah salah satu senopati perang Mataram yang ditugaskan oleh Raja Mataram saat itu yaitu Danang Suto Wijoyo untuk menumpas pemberontakan Dari Kabupaten Pati.
Selain itu Tokoh Nasional yaitu Kartini, perlu ditelusuri lagi pengaruhnya pada lahirnya sumpah pemuda, karena meskipun gerakan pemuda Jong Java di deklarasikan tahun 1913, tapi dalam surat Kartini dia sudah menceritakan gerakan pemuda itu. Bahkan ada info bea siswa yang diterima Kartini untuk belajar ke Belanda diserahkan kepada salah satu tokoh Budi Utomo.
Bahkan dari informasi yang ada para pemuda sering menyebut Kartini sebagai ayunda. Tempat "Curhat Para Pemuda"
"Jepara memang kota wanita, ada Shima, Kalinyamat, Ada Kartini, Ada Semangkin" begitu celoteh sang moderator.
Tampaknya apa yang disampaikan pak Hadi, selaras dengan ide kegiatan "Negeri yang terlahir kembali" dimana konsep yang diusung tersebut mengaitkan antara kelahiran Kartini dan kelahiran kebangkitan nasional dan lahirnya sumpah pemuda.
Ramatyan Sarjono selaku Narasumber ke dua menyampaikan kearifan lokal memang harus dicari, kalau tidak ketemu ya harus diciptakan. Inilah tantangan para kreator untuk menciptakan karya-karya baru berdasar kearifan lokal yang ada. Tetapi jangan lupa bahwa pengembangan kearifan lokal ini juga harus menghindari ketidak Arfian lokal.
Tumpes Kelor misalnya, adalah ketidak Arifah lokal. Setiap pergantian kekuasaan selalu menumpas keluarga dan turunan dari penguasa sebelumnya.
Apa yang disampaikan Pak Jon ini bisa berkait erat dengan cerita pak Hadi bahwa beliau pernah bertemu dengan anak turun Kartini yang hidup dalam kemiskinan, karena dimiskinkan oleh orde baru hanya karena Raden Susalit (anak Kartini) dekat dengan Soekarno.
Sementara KRT Siwoyo Hendro Pramono sebagai nara sumber pertama selaku salah satu keturunan ibu Mas Semangkin dan juga Keturunan dari salah satu Abdi Dalem Kartini menyampaikan informasi akan dilangsungkan Khoul ibu Mas Semangkin besok tgl 12 Oktober 2016 di desa Mayonglor.




No comments:
Post a Comment